Monday, 31 August 2009

Abu Lahab Jaman Modern

Tabbat yadaa abi lahabiw watab
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa
Maa aghnaa anhumaa luhu wamaa kasab
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Sayashlaana randzaata lahab
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Wamra atuhu hammaa latalhathab
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu baker
Fiijiidihaa hablum mim masad
Yang di lehernya ada tali dari sabut.
(QS. al-Lahab: 1-5).

Sahabatku, mereka yang menghalangi, menghina, dan menindas dakwah Islam dan penyerunya, akibatnya akan sama seperti yang terjadi pada Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Ra. bahwa Nabi Saw. keluar lembah lalu naik ke bukit kemudian berseru, “Bergegaslah di pagi hari ini,” hingga orang-orang Quraisy berkumpul mendatanginya. Kemudian Nabi Saw. bersabda, “Bagaimana pendapat kalian jika aku sampaikan bahwa musuh menyerang kalian di pagi hari atau sore hari ini? Apakah kalian membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian dari siksaan yang pedih.” Abu Lahab berkata, “Apakah untuk hal ini kamu mengumpulkan kami? Binasalah kamu!” Kemudian Allah menurunkan surat al-Lahab.

Abu Lahab tidak hanya menghalangi dan menghina dakwah Islam dan Nabi dengan perkataan saja. Tapi yang paling keji adalah melalui perbuatan. Abu Lahab adalah salah satu penyokong utama atas pemboikotan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib, yang notabene keluarga Nabi Muhammad Saw.. Padahal dia termasuk dari kalangan Bani Muththalib. Dia juga memerintahkan anak-anaknya yang menikahi putri-putri Nabi sebelum masa kenabian, yaitu Ruqaiyyah dan Ummu Kaltsum, untuk segera menceraikan keduanya demi menyusahkan Nabi Saw.

Istri Abu Lahab, Ummu Jamil, juga melancarkan banyak tindak kekejian lainnya. Diriwayatkan bahwa Ummu Jamil memasang duri di jalan yang dilewati Nabi Saw.. Dikatakan bahwa ungkapan ‘pembawa kayu bakar’ (hamma latalhathab) adalah kiasan tentang upayanya dalam menyakiti, memfitnah dan mencelakakan Nabi Saw.. Diriwayatkan oleh Said bin Musayyab bahwa Ummu Jamil adalah seorang wanita yang mempunyai kalung yang sangat mahal di lehernya. Kemudian dia berkata, “Aku akan mendermakan kalung ini untuk melancarkan permusuhan kepada Muhammad!”

Surat ini turun untuk menolak setiap serangan yang diarahkan Abu Lahab dan istrinya terhadap dakwah dan Nabi Saw.. Arti kata tabbat – pada ayat pertama – adalah binasa, hancur dan putus. Kata “tabbat” yang pertama adalah doa. Sedangkan kata “tabba” yang kedua adalah penetapan terjadinya doa tersebut. Di dalam satu ayat yang pendek di awal surat ini, doa itu muncul dan terwujudkan. Sehingga pertempuran berakhir dan layar pun tertutup. Dengan surat ini, Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan ada di pihak Nabi Muhammad dan para sahabatnya dan kekalahan yang telak ada di pihak Abu Lahab dan antek-anteknya.

Sedangkan ayat-ayat berikutnya merupakan ketetapan dan penjelasan mengenai apa yang terjadi.

Surat ini menggambarkan secara singkat, padat, dan bernas, akibat dari perbuatan menghalangi, menghina, dan menindas dakwah Islam dan penyerunya. Sungguh telah begitu banyak terjadi pada saat ini, di mana dakwah dan penyerunya mengalami ujian berupa fitnah, hinaan, dan penindasan yang sangat keji. Di antara mereka ada yang dikucilkan, diusir dari negeri kelahirannya, dibunuh, menjadi buron, dipenjara, dan disiksa!

Orang-orang zalim pada saat itu mungkin merasa bangga dengan kezalimannya. Dia tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya dikemudian hari. Yang mereka rasakan pada saat itu, mereka memperoleh kekayaan dan limpahan kenikmatan. Mereka terus memukul, menikam, dan menggantung satu demi satu para penyeru dakwah!

Keadaan ini terjadi hampir disetiap masa. Pada masa tabi’in, terjadi penangkapan masal oleh al-Hajjaj. Ia menangkapi ulama-ulama saleh yang dikenal vokal menentang kezaliman pemerintah saat itu. Salah satu ulama yang ditangkap adalah Sa’id bin Jabir. Beliau kemudian dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya! Sebelum dieksekusi, Imam Sa’id bin Jabir berkata kepada al-Hajjaj, bahwa kezaliman ini adalah kezaliman yang terakhir yang dilakukan al-Hajjaj. Memang benar kenyataannya. Al-Hajjaj menderita penyakit yang sangat mengerikan, tubuhnya dipenuhi bisul yang apabila muncul rasa sakit darinya, terdengar suara yang keras dari mulutnya seperti banteng yang meregang nyawa. Penyakitnya itu seperti menyiksanya setiap hari, lebih mengerikan daripada siksaan yang dilakukannya terhadap para ulama itu. Dan akhirnya kemudian al-Hajjaj mati dalam keadaan menyedihkan.

Kejadian yang sama juga terulang di abad 20 lalu, di mana para dai dan ulama di Mesir ditangkap dan dibunuh oleh pemerintah yang dipimpin Gamal Abdun Naser. Mereka yang menangkapnya mati dalam keadaan menyedihkan, termasuk Gamal Abdun Naser sendiri, sang tokoh sosialisme Arab itu! Di antara mereka ada yang mati dipenjara, mati tertabrak truk penuh besi sehingga tubuhnya tercabik-cabik tak karuan, ada yang mati pesakitan, dan ada yang mati karena stres.

Sementara para penyeru-Nya mati syahid atau hidup mendapat kemuliaan, para penentangnya mati menggenaskan dan mendapat kehinaan sama seperti halnya yang terjadi pada Abu Lahab, Ummu Jamil, dan kawan-kawannya. Memilih jalan yang manakah kita?

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Surat al-Lahab adalah teguran bagi mereka yang ingin menghalangi dakwah Islam, hendaknya mereka bersiap diri menerima azab Allah. Mereka yang menghalangi dakwah di sekolah-sekolah, yang menyuruh para siswinya untuk menanggalkan jilbab-jilbabnya, yang tidak menghendaki anak-anaknya untuk dekat dengan agama-Nya, yang bersekutu dengan para penyeru kebatilan, mereka adalah Abu Lahab-Abu Lahab dan Ummu Jamil-Ummu Jamil baru yang muncul di zaman modern. Semoga kita tidak menjadi bagian dari mereka untuk selama-lamanya! Dan semoga kita menjadi bagian dari penyeru-penyeru di jalan Allah yang menyeru pada kebajikan dan mencegah kemungkaran, untuk selama-lamanya pula!(abufarras.blogspot.com)

Kewajiban Kita Lebih Banyak Daripada Waktu Yang Tersedia

Sejarah adalah guru terbaik bagi kehidupan. Tentu kita mempunyai sejarah kita masing-masing. Bahkan, detik yang baru saja berlalu di hadapan kita adalah bagian dari sejarah hidup kita. Kita dapat bertanya dalam hati, seperti apakah sejarah yang telah kita torehkan? Apakah sejarah itu adalah sejarah perjuangan, kesabaran, kejujuran, dan ketaatan? Atau sejarah kemalasan, kemarahan, kedustaan, dan kemaksiatan? Bertanyalah pada hati kita dan ia akan menjawabnya dengan penuh kejujuran.

Sejarah hidup kita semakin meluas, berbanding terbalik dengan sisa umur yang kita miliki. Umur kita semakin berkurang sedangkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau semenit kemudian. Kita hanya bisa merencanakan dan berharap sesuatu yang tidak kita inginkan tidak datang secara tak terduga. Kita menginginkan sisa waktu yang lebih panjang lagi untuk mengganti sejarah kelam hidup kita. Tetapi, kadang, dan mungkin sering kali, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Oleh karena itu, bukanlah saatnya kita berpanjang angan-angan. Tetapi sudah saatnya, yang muda maupun tua, berbenah diri guna menyongsong hari esok yang lebih baik.

Allah memerintahkan kita untuk mengganti keburukan yang pernah kita lakukan dengan berbuat kebajikan. Misalnya saja, kita pernah memakan makanan yang haram, kemudian kita menghindarinya dan hanya memakan makanan yang halal. Raihlah kekuatan jiwa dengan tekad membaja yang tidak pernah melemah, kesetiaan yang tidak mengenal kemunafikan dan pengkhianatan, semangat berkorban yang tidak terkotori oleh ketamakan dan kebakhilan, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan. Hilangkan segala noda kehidupan kita dengan taubat. Ambillah ketaatan sebagai jalan kehidupan.

Renungkan sejarah kehidupan kita; lupakan seberapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan, tapi ingatlah seberapa banyak keburukan yang telah kita lakukan; lupakan seberapa banyak sedekah yang telah kita berikan, tapi ingatlah seberapa banyak harta yang belum kita sedekahkan; lupakan seberapa lapar dan dahaga yang kita rasakan ketika berpuasa, tapi ingatlah kenikmatan yang akan kita rasakan; lupakan seberapa banyak amal ibadah yang kita lakukan, tapi ingatlah apakah semua itu dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Karena, kita sering kali tertipu dengan apa yang telah kita lakukan. Seseorang yang beribadah qiyamul lail, merasa dirinya seorang ahli ibadah dan ia merasa orang lain berada di bawah dirinya. Bukanlah itu yang dimaksud dengan ibadah, tetapi ibadah adalah sesuatu jalan yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Apakah kita merasa menjadi seorang ahli ilmu hanya karena telah membaca sebuah buku? Ingatlah di atas langit ada langit. Semakin berisi padi, semakin merunduk tawadhu. Ilmu Allah jauh lebih luas dan dahsyat, tetapi kita tidak merasa Dia sombong, padahal Dia pantas untuk sombong. Masih banyak yang belum kita ketahui. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula yang belum kita ketahui. Seolah-olah ilmu Allah luas tak bertepi. Waktu kita sempit, sementara kewajiban sangatlah banyak. Ilmu sangat banyak yang harus kita pelajari, tapi hal ini berbanding terbalik dengan waktu yang kita miliki. Walaupun kita berharap bahwa kewajiban-kewajiban itu dapat kita lakukan, tetapi hal itu sering kali hanya angan-angan kosong, dan kemudian kita tidak melakukan satu kewajibanpun dalam sehari.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi kita, meskipun sesaat lagi kita wafat. Karena, udara kehidupan masih mengalir dalam tubuh kita bersamaan dengan beban kewajiban yang harus kita pikul. Kita tidak harus cukup hanya dengan membaca satu, dua, atau tiga buku. Kita harus berusaha membaca banyak buku. Begitupun dengan amal saleh lainnya. Istighfar harus kita perbanyak, karena kita tidak tahu pada bilangan istighfar ke berapa ampunan Allah itu turun. Kita juga memperbanyak membaca kalimat la ilahaillallah agar iman kita cenderung naik atau terus terbaharui. Karena, dengan imanlah semangat kita beramal tumbuh, dan apabila ia redup dalam jiwa kita, maka redup pula semangat hidup kita.

Tiada hari, tiada menit, tiada detik tanpa ketaatan. Setelah mengerjakan satu amal saleh, kita kembali mengerjakan amal saleh lainnya. Jika telah selesai dari urusan duniamu, maka kerjakanlah urusan akhiratmu. Fokuskanlah dirimu pada setiap pekerjaan yang engkau lakukan agar ia menghasilkan sesuatu yang baik bagimu di dunia dan akhirat.

Ingatlah kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Jangan engkau anggap kewajiban itu hanya berkisar pada shalat, puasa, zakat, dan pergi haji. Tetapi, kewajiban itu lebih dari itu semua; kita memiliki kewajiban untuk menjaga tubuh kita agar sehat yaitu dengan istirahat yang cukup, memakan makanan yang halal dan bergizi, membersihkan tubuh, dan berolahraga. Kita memiliki kewajiban untuk menjawab salam terhadap orang yang memberi salam. Kita memiliki kewajiban menjenguk sahabat-sahabat kita yang sedang sakit. Ghibah, hasad, dusta, dan akhlak-akhlak buruk lainnya adalah dilarang, bukankah akhlak itu wajib kita jauhi? Namun, tentu saja kewajiban itu bertingkat-tingkat sesuai dengan skala prioritas. Menegakkan shalat tentu tidak bisa digantikan dengan memakan makanan yang halal.

Dan, ingatlah pula, jangan engkau abaikan sarana yang akan mengantarkanmu pada tujuan. Sekilas, bisa saja orang mengatakan membuat pakaian tidak ada hubungannya dengan agama. Tetapi, bukankah dengan memakai pakaian maka aurat kita tertutup? Dengan demikian, kita telah menjalankan salah satu kewajiban agama. Jika seorang pembuat pakaian meniatkan apa yang dilakukannya itu untuk meraih ridha Allah, niscaya ia telah menjalankan salah satu perintah agama. Dan, pekerjaannya itu adalah bagian dari ibadah yang berbuah pahala. Begitupun dengan menghapuskan kemiskinan, yaitu dengan jalan bersedekah, berdemonstrasi menuntut keadilan, dan menjadi pejabat yang tidak korupsi, itu adalah bagian dari ibadah jika diniatkan untuk meraih keridhaan Allah. Bukankah kemiskinan lebih dekat pada kekufuran? Dan, bukankah kekufuran sangat dimurkai Allah? Semoga kita terhindar dari kekufuran, baik yang kecil maupun yang besar.

Sahabatku, dunia ini adalah ladang untuk kita beramal yang akan kita panen di akhirat nanti. Semoga saja sejarah kehidupan kita adalah sejarah orang-orang saleh. Meskipun kita pernah berbuat maksiat, tapi kita segera menggantinya dengan kebajikan dan taubat.(abufarras.blogspot.com)

Curhat Sang Kekasih Allah

Suatu ketika Syekh Tajuddin Ahmad bin Atho'illah As-Skandary dilanda keresahan beliau merasa ada perasaan sedih menyelinap dihatinya,sebagai manusia biasa hal itu merupakan suatu kewajaran apalagi kala itu sang ibnu Atho'illah ini masih baru mulai belajar tentang hakikat islam dan arti sebuah kehidupan,jadi tak heran bermacam-macam gangguan datang menggoyang ketenangan hati nya.

Ketika hal ini disampaikan pada gurunya Imam Abul Abbas Al-Mursy,beliau berkata:

احوال العبد اربع لا خامس لها : النعمة و البلية والطاعة والمعصية,
فان كنت بالنعمة فمقتض الحق منك الشكر
وان كنت بالبلية فمقتض الحق منك الصبر
وان كنت بالطاعة فمقتض الحق منك شهود منته عليك
وان كنت بالمعصية فمقتض الحق منك وجود الاستغفار

Ahwalul abdi arba' laa khomisa laha
An-ni'mah wal baliyyah wat tho'ah wal ma'shiah
Fa inkunta bin ni'mah famuqtadhol haq minka ay-syukru,
Wa inkunta bil baliyyah famuqtadhol haq minka as-shobru,
Wa inkunta bit thoo'ah famuqtadhol haq minka syuhud minnatihi alaika,
Wa inkunta bil ma'shiah famuqtadhol haq minka wujudul istighfar.

(Keadaan hamba(manusia)didunia ini hanya empat;keadaan atau saat-saat senang mendapat ni'mat,saat sedih dan susah karena mendapat musibah atau cobaan,saat dimana kita taat pada tuhan, dan saat dimana kita lalai ma'shiat pada tuhan.
Kalau kita dalam keadaan mendapat ni'mat maka yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur,jika kita sedang dalam sebuah penderitaan maka kita dituntut untuk sabar,jika kita diberi kekuatan oleh Allah melakukan ketaan dan kebajikan makan pandanglah bahwa itu merupakan karunia Allah pada kita bukan karena kehebatan diri kita,dan jika kita melakukan sebuah dosa maka kita dimita untuk mengucapkan Istighfar minta ampau atas dosa yg kita perbuat)

Manusia mana yang tak pernah berbuat dosa,manusia mana yang tak pernah bersedih,manusia mana yang hidupnya selalu tenang dan senang tanpa sedikitpun putus asa.

Nabi Muhammad saw bersada yang artinya:
setiap bani(anak keturunan)Adam itu pernah berbuat dosa,dan sebaik-baik orang yang pernah melakukan dosa adalah orang yang bertaubat.

Manusia dikarunia hawa nafsu,ini merupakan fitrah yang Allah jadikan untuk manusia agar dengan itu manusia mampu memakmurkan bumi,bangunan yang tinggi,masjid yang indah,dan sebangainya merupakan efek dari nafsu itu sendiri.seandainya yang menempati bumi adalah malaikat maka tidak akan ditemukan bangunan yg menjulang tinggi,mungkin bumi tidak ubahnya seperti kuburan.

Karena nafsu ini maka kebanyakan manusia selalu menyeleweng dari kebenaran.manusia selalu menuntut haknya dan lupa akan kewajiban sebagai hamba tuhan bahkan lupa bahwa ia merupakan makhluq social.

Kadang kita tidak menyadari bahwa hidup didunia ini tidak lepas dari empat keadaan diatas,terasa aneh sekali sebab empat hal itu merupakan realita yang tak terbantahkan tapi mengapa kita kadang masih lupa?jawabannya karena kita dilalaikan oleh syaitan!
Syetan juga membisikan rasa putus asa pada manusia,karena itu banyak diantara kita merasa dosanya terlalu besar kemudian merasa tipis harapan untuk bertaubat dan malah menambah lagi dosanya.

Pesimis,minder dan sebangsanya kalau kita perhatikan dengan seksama adlah hal yang kurang beralasan.Tuhan tidak suka dengan hamba yang putus asa,tuhan pasti menerima taubat setiap hambanya,tuhan tidak seperti manusia yang suka mempermainkan,janji tuhan pasti terlaksana.berapa kalipun seorang hamba berbuat dosa asal dia kembali pada Allah maka ia akan diterima,Allah tidak punya sifat merajuk.

Perkataan Imam Abul Abbas diatas menyampaikan pesan pada kita agar jangan berputus asa dalam kehidupan ini,tidak ada dosa yang tidak diampuni klu kita bertaubat.pesan lain adalah kesederhanaan hubungan kita dengan tuhan yang maha kuasa,Allah tidak menuntut apa-apa dari kita kecuali ibadah padanya.Allah tidak memerintahkan orang berdosa agar menyembelih onta tau kerbau yang mahal misalnya,Allah hanya butuh pengakuan dosa dan taubat istighfar yang diteruskan dgn perbuatan baik dari seorang hamba …cukup!kalau dilanda musibah Allah hanya minta sabar sambil usaha untuk lepas dari kesusahan itu,kalau kita rajin beribadah Allah hanya minta kita jangan sombong merasa baik,merasa kuat untuk beribadah dan lupa bahwa kekuatan untuk ibadaha adalah pertolongan dari Allah. Wallahu a'lam bisshowab(petanikcik.blogspot.com)





.