Saturday, 10 October 2009

Menyongsong Kejayaan Islam Melalui Internet



Oleh: Triatno Yudho Prabowo*


Da'wah merupakan sebuah jalan yang harus dilalui dalam rangka menegakkan kalimatullah. Layaknya sebuah keping mata uang, da'wah tidak dapat dilepaskan dari Islam. Ia bukan sekedar proses yang penting dilakukan, tetapi lebih jauh da'wah adalah sebuah kewajiban dari Allah SWT sebagaimana yang telah diwahyukan dalam surat An Nahl ayat 125: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik�" sekaligus perintah dari Rasulullah mulia Muhammad saw: "Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat." Demikian mulia dan agungnya kedudukan da'wah dalam ajaran Islam, maka sudah menjadi keharusan bagi setiap individu yang mengaku muslim untuk bukan sekedar terpanggil tetapi bahkan mencoba mencurahkan segenap kehidupannya untuk da'wah.

Seiring dengan berkembang pesatnya kemajuan zaman, beberapa tahun silam muncul di hadapan kita sebuah "dunia baru" bersamaan dengan hadirnya internet. Manusia dengan kepandaiannya telah berhasil membuat sebuah dunia yang tanpa jarak dan tanpa sekat melalui internet. Internet juga telah berhasil menghubungkan manusia yang satu dengan yang lain hanya dalam hitungan detik. Beberapa negara dapat bergantian kita singgahi dalam sekejap. Sehingga selain dunia nyata yang kita alami sehari-hari, manusia juga disuguhkan sebuah "dunia lain" yang sering disebut-sebut dengan dunia cyber atau dunia maya.


Berkaitan dengan hal tersebut, Islam sebagai agama yang responsif terhadap segala perubahan dan keadaan, sudah selayaknya melakukan evaluasi terhadap "da'wah tradisionalnya". Da'wah dalam artinya yang luas (bukan sekedar tabligh atau ceramah) dituntut untuk mampu menembus dunia cyber dalam rangka menebarkan benih-benih Al Islam. Ada beberapa alasan mengapa da'wah dipandang penting untuk dihadirkan di dunia maya:


1. Setiap orang berhak untuk menerima da'wah.


Da'wah bukanlah terbatas hanya untuk sebagian kalangan dan melupakan kalangan yang lain. Bahkan Rasulullah Muhammad saw mengajarkan para sahabatnya dan juga kita umatnya untuk berda'wah bukan hanya ditujukan kepada sesama muslim, tapi juga harus menyentuh sisi-sisi di luar umat muslimin. Suatu riwayat menceritakan mengenai kisah pengemis Yahudi yang buta. Pengemis Yahudi yang buta itu selalu berdiri di sebuah pasar seraya terus menerus menjelek-jelekan Rasulullah Muhammad saw kepada semua orang yang berlalu di hadapannya. Mendengar hinaan tersebut Rasulullah tidak merasa tersinggung, bahkan ia yang selalu menyuapi makanan kepada sang pengemis tanpa memberitahukan kepada pengemis itu siapa dirinya. Barulah setelah Rasulullah wafat, pengemis Yahudi mendengar perlakuan Rasulullah saw itu dari sahabat Abu Bakar. Pengemis itu kemudian menangis dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar setelah mendengar penuturan Abu Bakar.


Oleh sebab itu upaya untuk berda'wah kepada para netter (pengguna internet) dipandang penting untuk dilakukan. Dari pengalaman yang ada, tidak sedikit pengguna internet yang tadinya nonmuslim menjadi tertarik kepada Islam. Bahkan dari sekian banyak yang tertarik itu, di antaranya telah berhasil menemukan kesucian dan kebenaran Islam lantaran da'wah yang dilakukan di internet.


2. Da'wah dilakukan untuk mengenalkan Islam.


Sebuah proses pengenalan terhadap Islam mutlak diperlukan dalam rangka menegakkan kembali kejayaan Islam. Pengenalan ini sangat penting, karena akan menentukan apakah pemahaman seseorang terhadap Islam sudah baik dan benar. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al An'am ayat 153 "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kamu agar kamu bertaqwa".

Da'wah dapat diumpamakan sebagai pengenalan sebuah produk kepada seseorang. Dan sejak dunia ekonomi mengajarkan bahwa sebuah produk dibuat untuk ditawarkan kepada konsumen, pengenalan Islam melalui da'wah menjadi sangat urgen di internet. Hal ini didasari pada fakta bahwa saat ini manusia yang menjalani "kehidupan" dalam dunia maya sudah mencapai angka puluhan juta.


3. Da'wah memiliki arti yang sangat luas.


Adalah sebuah hal yang umum bahwa sementara ini tidak sedikit orang yang mendefenisikan da'wah hanya sebatas pada acara-acara tabligh ataupun ceramah-ceramah yang dilakukan oleh mubaligh-mubaligh terkenal. Padahal segala upaya yang ditujukan untuk menyeru manusia kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah da'wah. Dan da'wah merupakan manifestasi ibadah seseorang. Sehingga semenjak Hasan Al Bana-seorang ulama Mesir yang terkenal- mengatakan bahwa segala perbuatan dapat bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat karena Allah dan dengan syariat yang benar, maka menyebarkan Islam melalui internet adalah sebuah da'wah sekaligus bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.


4. Setiap muslim wajib mencegah kemungkaran.


Bukan rahasia lagi bahwa internet yang dibangga-banggakan sebagai terobosan teknologi komputer terbesar di millennium ini, ternyata juga memiliki begitu banyak kekurangan. Salah satunya adalah belum ditemukannya mekanisme yang tepat untuk mencegah kebebasan-kebebasan yang benar-benar tanpa batas di internet. Sehingga jadilah internet sebagai lahan subur bagi tumbuhnya kemaksiatan-kemaksiatan seperti pornografi dan perjudian yang dilakukan secara online. Melihat kenyataan yang demikian itu, kehadiran Al Haq sebagai antitesa sejati Al Bathil di dunia maya adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Allah SWT selalu memerintahkan kepada kita untuk mencegah kemungkaran-kemungkaran yang ada (lihat surat Ali Imran: 110).


5. Da'wah cyber akan meningkatkan profesionalisme (ihsan) para aktivis da'wah.


Sebuah kebenaran yang tidak tertata dengan baik akan dikalahkan oleh kebathilan yang tertata dengan baik. Itulah pesan yang disampaikan oleh Sahabat Rasul yang mulia Ali bin Abi Thalib ra, yang bila kita mencoba memahaminya lebih jauh sebuah da'wah yang tidak dilakukan secara profesional akan ditumbangkan oleh kemaksiatan yang dikerjakan dengan penuh profesionalisme. Berkaitan dengan pembentukan sikap ihsan tersebut, maka profesionalisme aktivis da'wah akan terus terpupuk melalui da'wah cyber seiring dengan teknologi yang akan terus berkembang.


Dengan beberapa alasan yang dikemukakan di atas diharapkan timbul sebuah paradigma baru dalam diri umat Islam bahwa da'wah yang dilakukan, tidak lagi dibatasi hanya pada interaksi langsung antara aktivis dengan obyek da'wahnya di dunia nyata. Melainkan melingkupi da'wah yang dilakukan secara digital yang dilakukan melalui internet. Insya Allah dengan terciptanya sebuah sinergis antara da'wah konvensional di dunia nyata dengan da'wah digital di dunia maya, kejayaan Islam yang dirindukan oleh seluruh muslim dan penghuni jagad raya ini tidak lama lagi akan segera dapat terwujud. Amin Allahumma Amin.


* Mahasiswa Fakultas Psikologi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Source : dudung.net








Monday, 31 August 2009

Kita Memang Berbeda Cinta

Ayah bunda lucu deh,” kata anak kami Faiz, pada suatu hari yang gerimis.

Saya mengerutkan kening sambil tersenyum. “Lucu? Lucu apanya sayang?”

“Orangnya bertolak belakang! He he he….”

Saya tersentak sesaat. Faiz, anak kami yang belum berusia 10 tahun dan suka menulis puisi, “membaca” kami sedalam itu.

Saya manggut-manggut. “Hmmm, lalu apanya yang salah?”

Dia mengerling menggoda. “Tidak ada. Ayah Bunda pasangan yang unik!”

Saya dekatkan wajah saya pada Faiz dan menyentuh lembut hidungnya.

“Aku mencatat beberapa contoh. Bunda suka durian, ayah anti durian. Bunda periang, ayah pendiam. Bunda humoris, ayah sangat serius. Hmmm, apalagi ya? Ayah menganalisa, bunda sensitif. Ayah itu detail, bunda tidak. Ayah dan bunda memandang persoalan dengan cara berbeda. Menyelesaikan persoalan dengan berbeda pula!”

Saya bengong.

“Bunda romantis tapi ayah tidak. Kalau aku romantis!” katanya setengah berbisik, lalu tertawa.

Saya tambah bengong! Tahu apa anak itu tentang romantisme?

Faiz terus nyerocos. Ia pun bercerita, tentang percakapan di sekolah dengan teman-temannya. Anak-anak SD Kelas IV itu ternyata sudah berpikir, kelak kalau menikah harus mencari pasangan yang sifatnya sama! “Kalau tidak nanti bisa cerai!”

What? Saya garuk-garuk kepala.

“Aku saja yang tidak begitu setuju, Bunda. Aku bilang pada teman-teman, justru karena ayah bunda berbeda, jadinya malah asyik lho!”

Saya geleng-geleng kepala lagi, sambil mengulum senyum. Ah, tahukah para orangtua mereka bahwa anak-anak mereka kadang tahu lebih banyak dari yang kita pikir?

Tak lama Faiz sudah asyik dengan bacaannya di kamar. Di ruang kerja saya, tiba-tiba wajah beberapa teman lama melintas.

A memilih bercerai karena setelah menikah 10 tahun dan punya 2 anak kemudian merasa ia dan suami sama sekali tak cocok!

B menjalani kehidupan rumah tangganya dengan perasaan hampa karena tak kunjung merasa cocok dengan suaminya, setelah menikah belasan tahun.

C selalu berkomunikasi dengan suaminya tentang berbagai hal, tapi terpaksa cekcok hampir setiap hari karena tak kunjung sampai pada sesuatu bernama kesamaan.

D tak lagi peduli pada indahnya jalan pernikahan dan sekadar menjaga keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat.

Di antara mereka ada yang seperti saya, menikah karena dijodohkan sahabat atau ustadz. Ada pula yang menikah setelah melalui pacaran lebih dahulu bertahun-tahun. Dan atas nama “ketidakcocokan” itulah yang terjadi.

Saya akui, pengamatan Faiz jeli. Saya dan Mas Tomi memang sangat berbeda. Sebelas tahun kami bersama dan berupaya mencari titik temu. Tak selalu berhasil. “We are the odd couple!” kelakar kami.

Tapi alhamdulillah, di tengah-tengah segala perbedaan itu, kami berusaha untuk tak berhenti berkomunikasi. Saya mencoba memilih waktu yang tepat, yang menyenangkan untuk bicara berdua. Begitu juga Mas. Kami membicarakan perbedaan kami di saat dan di tempat yang nyaman dan menyenangkan.

Kadang tak semua perlu dibicarakan. Mas menunjukkan dengan sikap apa yang ia inginkan dari saya. Kadang saat saya lelah, tanpa harus terucap kata “saya capek,” Mas memijat pundak dan punggung saya. Saya tahu, saya menangkap, Mas akan senang kalau saya perlakukan demikian pula. Saya selalu memberi kejutan di saat milad, ulang tahun pernikahan, di saat ia meraih kesuksesan atau kapan saja saya mau. Mas menyadari, itu artinya saya pun ingin diperhatikan demikian. Ia mencoba, meski sebelumnya tak ada tradisi itu di keluarga Mas. Saya membuatkannya puisi saat Mas kerap memberi saya data statistik keuangan kami. Mas tahu, saya ingin sesekali diberi puisi sederhana tentang cinta. Saya pun menyadari, Mas ingin saya bisa mencatat semua pemasukan dan pengeluaran rumah tangga dengan rapi. Mas suka makanan tertentu. Dan meski tak suka, saya coba memasaknya. Saya membelikan Mas pakaian yang sedikit modis. Mas nyengir, tapi ia coba memakainya.

Berupaya untuk memahami dan mengecilkan perbedaan menjadi indah, ketika itu dilakukan dengan senyum dan ketulusan, bukan karena tuntutan atau paksaan terhadap pasangan. Dan kalau dengan berubah kita lantas menjadi lebih baik, kalau berubah itu dalam rangka ibadah, dalam rangka membuat pasangan kita bahagia, mengapa tidak? Kalaupun pasangan kita tidak juga berubah dari karakter semula setelah bertahun-tahun, mengapa kita tak melihat hal itu sebagai keunikan yang makin “mengayakan” kita?

Di atas itu semua, sebenarnya semua perbedaan bisa saja seolah lebur saat suami istri menyadari persamaan utama mereka, yaitu keinginan menjadi abdi illahi sejati! Cinta karena dan untukNya, menjadikan sifat dan karakter yang paling berbeda sekalipun, bersimpuh atas namaNya. Perbedaan justru menjadi masalah serius ketika masing-masing pribadi memang tidak menempatkan ridho Allah sebagai tujuan utama dalam biduk rumah tangga mereka.

Di luar, hujan mulai reda. Sayup-sayup saya dengar suara Faiz di telpon. Rupanya ia sedang bercakap dengan salah satu temannya.

“Apa? Ayah bundamu bertengkar? Sudah, jangan menangis. Cinta yang besar kepada Allah, akan selalu menyatukan mereka!”

Saya nyengir. Sejak kapan anak itu menjadi konsultan ya?(helvytr.multiply.com)




Kamu Cantik!

Saya cantik nggak sih?
Dulu saya pasti akan bilang: saya tidak cantik, saya mungkin bukan perempuan yang akan dilirik pria manapun.

Secara fisik...kulit saya terlalu sawo matang kalau tidak bisa dibilang hitam, hidung saya terlalu besar, badan saya gemuk, tidak banyak pilihan pakaian untuk saya.... belum lagi gigi yang tidak serapi orang lain....
Dari segi kepintaran, ya standar-lah. Tidak terlalu pintar, meski sudah pasti tidak bodoh. Dari segi harta, saya ini orang yang sederhana...

Setiap berjalan dengan perempuan mana pun, ialah yang akan dilirik, dan saya yang diabaikan. Kecuali bila saya diberi kesempatan bicara, barulah orang mulai memperhatikan saya. Ketika saya bergabung di teater, maka saya adalah orang yang paling sering mendapat peran yang aneh. Kalau ada peran untuk saya, yaa nggak jauh-jauh dari Mbok Emban hahaha...

Hanya saja, karena saya senang berteman dan selalu bersikap baik pada teman saya yang manapun, saya menjadi populer di kalangan teman-teman di masa sekolah dulu. Mereka juga memperhatikan saya karena saya mencukupi kebutuhan sekolah saya dengan menulis...,sesuatu yang pada saat itu mungkin mereka anggap hebat.

Lantas, di mana titik balik itu? Ketika saya pertama kali memakai jilbab tahun 1988!
Kehidupan saya berubah 180 derajat, termasuk pandangan saya mengenai kecantikan.
Tiba-tiba saya tak lagi ingin terpenjara oleh fisik sendiri. Menjaga kebersihan dan keindahan itu sesuatu yang bagus. Tapi membuat diri ini harus putih, berbadan ala gitar spanyol dan tergantung pada make up yang selalu mengoreksi wajah sejati kita, lalu suntik botox, operasi plastik ini itu, susuk....ow...tunggu dulu!

"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk." (QS At Tiin: 4)

Mahasuci Allah yang telah menciptakan setiap orang menjadi pribadi yang unik dan berpotensi dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Fii ahsani taqwiim. Nah bagaimana fii ahsani taqwiim-nya saya? Ya, kulit yang hitam ini (alhamdulillah), hidung yang besar (alhamdulillah, saya menghirup oksigen jauh lebih banyak dari yang lain! :)). Dan semua bentuk saya, dari ujung rambut hingga ujung kaki...Masya Allah...betapa saya syukuri. Inilah "fii ahsani taqwiim" saya! Sebaik-baik bentuk saya! Lalu...

Ah, bagi saya, kecantikan pada menjadi kata yang tak lagi rumit. It's so simple..., ketika kita makin dekat pada Allah, maka kita akan semakin cantik. Iman dan amal adalah resep cantik yang tak bisa ditawar. Wudhu dan senyuman bahkan menjadi obat anti aging paling top, yang takkan tergantikan :). Selanjutnya...ya tetap berusaha untuk lebih enak dilihat, misalnya selalu menjaga kebersihan wajah dan tubuh, menjaga keindahan dengan baju yang selaras, enak dilihat, dan semacamnya. Percayalah pada Allah, sebelum percaya pada diri sendiri!
Dan cantik di mata Allah? Bukankah itu tujuan utama para perempuan sejati?

Saya ingat ketika suami saya datang melamar, "Saya memilih kamu karena karaktermu yang sangat kuat. Perempuan yang cantik, pintar, dan baik itu sangat banyak..., tapi sedikit yang memiliki karakter kuat...." (Waaaah diingat terus kalimat ajaib ini! :))

Jadi?
Mari banyak bersyukur, jadikan ahlak mulia sebagai pakaian utama, dan berprestasilah!
Maka insya Allah...kita akan semakin cantik...:)

Sukses ya!(helvytr.multiply.com)

Abu Lahab Jaman Modern

Tabbat yadaa abi lahabiw watab
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa
Maa aghnaa anhumaa luhu wamaa kasab
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Sayashlaana randzaata lahab
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Wamra atuhu hammaa latalhathab
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu baker
Fiijiidihaa hablum mim masad
Yang di lehernya ada tali dari sabut.
(QS. al-Lahab: 1-5).

Sahabatku, mereka yang menghalangi, menghina, dan menindas dakwah Islam dan penyerunya, akibatnya akan sama seperti yang terjadi pada Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Ra. bahwa Nabi Saw. keluar lembah lalu naik ke bukit kemudian berseru, “Bergegaslah di pagi hari ini,” hingga orang-orang Quraisy berkumpul mendatanginya. Kemudian Nabi Saw. bersabda, “Bagaimana pendapat kalian jika aku sampaikan bahwa musuh menyerang kalian di pagi hari atau sore hari ini? Apakah kalian membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian dari siksaan yang pedih.” Abu Lahab berkata, “Apakah untuk hal ini kamu mengumpulkan kami? Binasalah kamu!” Kemudian Allah menurunkan surat al-Lahab.

Abu Lahab tidak hanya menghalangi dan menghina dakwah Islam dan Nabi dengan perkataan saja. Tapi yang paling keji adalah melalui perbuatan. Abu Lahab adalah salah satu penyokong utama atas pemboikotan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib, yang notabene keluarga Nabi Muhammad Saw.. Padahal dia termasuk dari kalangan Bani Muththalib. Dia juga memerintahkan anak-anaknya yang menikahi putri-putri Nabi sebelum masa kenabian, yaitu Ruqaiyyah dan Ummu Kaltsum, untuk segera menceraikan keduanya demi menyusahkan Nabi Saw.

Istri Abu Lahab, Ummu Jamil, juga melancarkan banyak tindak kekejian lainnya. Diriwayatkan bahwa Ummu Jamil memasang duri di jalan yang dilewati Nabi Saw.. Dikatakan bahwa ungkapan ‘pembawa kayu bakar’ (hamma latalhathab) adalah kiasan tentang upayanya dalam menyakiti, memfitnah dan mencelakakan Nabi Saw.. Diriwayatkan oleh Said bin Musayyab bahwa Ummu Jamil adalah seorang wanita yang mempunyai kalung yang sangat mahal di lehernya. Kemudian dia berkata, “Aku akan mendermakan kalung ini untuk melancarkan permusuhan kepada Muhammad!”

Surat ini turun untuk menolak setiap serangan yang diarahkan Abu Lahab dan istrinya terhadap dakwah dan Nabi Saw.. Arti kata tabbat – pada ayat pertama – adalah binasa, hancur dan putus. Kata “tabbat” yang pertama adalah doa. Sedangkan kata “tabba” yang kedua adalah penetapan terjadinya doa tersebut. Di dalam satu ayat yang pendek di awal surat ini, doa itu muncul dan terwujudkan. Sehingga pertempuran berakhir dan layar pun tertutup. Dengan surat ini, Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan ada di pihak Nabi Muhammad dan para sahabatnya dan kekalahan yang telak ada di pihak Abu Lahab dan antek-anteknya.

Sedangkan ayat-ayat berikutnya merupakan ketetapan dan penjelasan mengenai apa yang terjadi.

Surat ini menggambarkan secara singkat, padat, dan bernas, akibat dari perbuatan menghalangi, menghina, dan menindas dakwah Islam dan penyerunya. Sungguh telah begitu banyak terjadi pada saat ini, di mana dakwah dan penyerunya mengalami ujian berupa fitnah, hinaan, dan penindasan yang sangat keji. Di antara mereka ada yang dikucilkan, diusir dari negeri kelahirannya, dibunuh, menjadi buron, dipenjara, dan disiksa!

Orang-orang zalim pada saat itu mungkin merasa bangga dengan kezalimannya. Dia tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya dikemudian hari. Yang mereka rasakan pada saat itu, mereka memperoleh kekayaan dan limpahan kenikmatan. Mereka terus memukul, menikam, dan menggantung satu demi satu para penyeru dakwah!

Keadaan ini terjadi hampir disetiap masa. Pada masa tabi’in, terjadi penangkapan masal oleh al-Hajjaj. Ia menangkapi ulama-ulama saleh yang dikenal vokal menentang kezaliman pemerintah saat itu. Salah satu ulama yang ditangkap adalah Sa’id bin Jabir. Beliau kemudian dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya! Sebelum dieksekusi, Imam Sa’id bin Jabir berkata kepada al-Hajjaj, bahwa kezaliman ini adalah kezaliman yang terakhir yang dilakukan al-Hajjaj. Memang benar kenyataannya. Al-Hajjaj menderita penyakit yang sangat mengerikan, tubuhnya dipenuhi bisul yang apabila muncul rasa sakit darinya, terdengar suara yang keras dari mulutnya seperti banteng yang meregang nyawa. Penyakitnya itu seperti menyiksanya setiap hari, lebih mengerikan daripada siksaan yang dilakukannya terhadap para ulama itu. Dan akhirnya kemudian al-Hajjaj mati dalam keadaan menyedihkan.

Kejadian yang sama juga terulang di abad 20 lalu, di mana para dai dan ulama di Mesir ditangkap dan dibunuh oleh pemerintah yang dipimpin Gamal Abdun Naser. Mereka yang menangkapnya mati dalam keadaan menyedihkan, termasuk Gamal Abdun Naser sendiri, sang tokoh sosialisme Arab itu! Di antara mereka ada yang mati dipenjara, mati tertabrak truk penuh besi sehingga tubuhnya tercabik-cabik tak karuan, ada yang mati pesakitan, dan ada yang mati karena stres.

Sementara para penyeru-Nya mati syahid atau hidup mendapat kemuliaan, para penentangnya mati menggenaskan dan mendapat kehinaan sama seperti halnya yang terjadi pada Abu Lahab, Ummu Jamil, dan kawan-kawannya. Memilih jalan yang manakah kita?

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Surat al-Lahab adalah teguran bagi mereka yang ingin menghalangi dakwah Islam, hendaknya mereka bersiap diri menerima azab Allah. Mereka yang menghalangi dakwah di sekolah-sekolah, yang menyuruh para siswinya untuk menanggalkan jilbab-jilbabnya, yang tidak menghendaki anak-anaknya untuk dekat dengan agama-Nya, yang bersekutu dengan para penyeru kebatilan, mereka adalah Abu Lahab-Abu Lahab dan Ummu Jamil-Ummu Jamil baru yang muncul di zaman modern. Semoga kita tidak menjadi bagian dari mereka untuk selama-lamanya! Dan semoga kita menjadi bagian dari penyeru-penyeru di jalan Allah yang menyeru pada kebajikan dan mencegah kemungkaran, untuk selama-lamanya pula!(abufarras.blogspot.com)

Kewajiban Kita Lebih Banyak Daripada Waktu Yang Tersedia

Sejarah adalah guru terbaik bagi kehidupan. Tentu kita mempunyai sejarah kita masing-masing. Bahkan, detik yang baru saja berlalu di hadapan kita adalah bagian dari sejarah hidup kita. Kita dapat bertanya dalam hati, seperti apakah sejarah yang telah kita torehkan? Apakah sejarah itu adalah sejarah perjuangan, kesabaran, kejujuran, dan ketaatan? Atau sejarah kemalasan, kemarahan, kedustaan, dan kemaksiatan? Bertanyalah pada hati kita dan ia akan menjawabnya dengan penuh kejujuran.

Sejarah hidup kita semakin meluas, berbanding terbalik dengan sisa umur yang kita miliki. Umur kita semakin berkurang sedangkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau semenit kemudian. Kita hanya bisa merencanakan dan berharap sesuatu yang tidak kita inginkan tidak datang secara tak terduga. Kita menginginkan sisa waktu yang lebih panjang lagi untuk mengganti sejarah kelam hidup kita. Tetapi, kadang, dan mungkin sering kali, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Oleh karena itu, bukanlah saatnya kita berpanjang angan-angan. Tetapi sudah saatnya, yang muda maupun tua, berbenah diri guna menyongsong hari esok yang lebih baik.

Allah memerintahkan kita untuk mengganti keburukan yang pernah kita lakukan dengan berbuat kebajikan. Misalnya saja, kita pernah memakan makanan yang haram, kemudian kita menghindarinya dan hanya memakan makanan yang halal. Raihlah kekuatan jiwa dengan tekad membaja yang tidak pernah melemah, kesetiaan yang tidak mengenal kemunafikan dan pengkhianatan, semangat berkorban yang tidak terkotori oleh ketamakan dan kebakhilan, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan. Hilangkan segala noda kehidupan kita dengan taubat. Ambillah ketaatan sebagai jalan kehidupan.

Renungkan sejarah kehidupan kita; lupakan seberapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan, tapi ingatlah seberapa banyak keburukan yang telah kita lakukan; lupakan seberapa banyak sedekah yang telah kita berikan, tapi ingatlah seberapa banyak harta yang belum kita sedekahkan; lupakan seberapa lapar dan dahaga yang kita rasakan ketika berpuasa, tapi ingatlah kenikmatan yang akan kita rasakan; lupakan seberapa banyak amal ibadah yang kita lakukan, tapi ingatlah apakah semua itu dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Karena, kita sering kali tertipu dengan apa yang telah kita lakukan. Seseorang yang beribadah qiyamul lail, merasa dirinya seorang ahli ibadah dan ia merasa orang lain berada di bawah dirinya. Bukanlah itu yang dimaksud dengan ibadah, tetapi ibadah adalah sesuatu jalan yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Apakah kita merasa menjadi seorang ahli ilmu hanya karena telah membaca sebuah buku? Ingatlah di atas langit ada langit. Semakin berisi padi, semakin merunduk tawadhu. Ilmu Allah jauh lebih luas dan dahsyat, tetapi kita tidak merasa Dia sombong, padahal Dia pantas untuk sombong. Masih banyak yang belum kita ketahui. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula yang belum kita ketahui. Seolah-olah ilmu Allah luas tak bertepi. Waktu kita sempit, sementara kewajiban sangatlah banyak. Ilmu sangat banyak yang harus kita pelajari, tapi hal ini berbanding terbalik dengan waktu yang kita miliki. Walaupun kita berharap bahwa kewajiban-kewajiban itu dapat kita lakukan, tetapi hal itu sering kali hanya angan-angan kosong, dan kemudian kita tidak melakukan satu kewajibanpun dalam sehari.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi kita, meskipun sesaat lagi kita wafat. Karena, udara kehidupan masih mengalir dalam tubuh kita bersamaan dengan beban kewajiban yang harus kita pikul. Kita tidak harus cukup hanya dengan membaca satu, dua, atau tiga buku. Kita harus berusaha membaca banyak buku. Begitupun dengan amal saleh lainnya. Istighfar harus kita perbanyak, karena kita tidak tahu pada bilangan istighfar ke berapa ampunan Allah itu turun. Kita juga memperbanyak membaca kalimat la ilahaillallah agar iman kita cenderung naik atau terus terbaharui. Karena, dengan imanlah semangat kita beramal tumbuh, dan apabila ia redup dalam jiwa kita, maka redup pula semangat hidup kita.

Tiada hari, tiada menit, tiada detik tanpa ketaatan. Setelah mengerjakan satu amal saleh, kita kembali mengerjakan amal saleh lainnya. Jika telah selesai dari urusan duniamu, maka kerjakanlah urusan akhiratmu. Fokuskanlah dirimu pada setiap pekerjaan yang engkau lakukan agar ia menghasilkan sesuatu yang baik bagimu di dunia dan akhirat.

Ingatlah kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Jangan engkau anggap kewajiban itu hanya berkisar pada shalat, puasa, zakat, dan pergi haji. Tetapi, kewajiban itu lebih dari itu semua; kita memiliki kewajiban untuk menjaga tubuh kita agar sehat yaitu dengan istirahat yang cukup, memakan makanan yang halal dan bergizi, membersihkan tubuh, dan berolahraga. Kita memiliki kewajiban untuk menjawab salam terhadap orang yang memberi salam. Kita memiliki kewajiban menjenguk sahabat-sahabat kita yang sedang sakit. Ghibah, hasad, dusta, dan akhlak-akhlak buruk lainnya adalah dilarang, bukankah akhlak itu wajib kita jauhi? Namun, tentu saja kewajiban itu bertingkat-tingkat sesuai dengan skala prioritas. Menegakkan shalat tentu tidak bisa digantikan dengan memakan makanan yang halal.

Dan, ingatlah pula, jangan engkau abaikan sarana yang akan mengantarkanmu pada tujuan. Sekilas, bisa saja orang mengatakan membuat pakaian tidak ada hubungannya dengan agama. Tetapi, bukankah dengan memakai pakaian maka aurat kita tertutup? Dengan demikian, kita telah menjalankan salah satu kewajiban agama. Jika seorang pembuat pakaian meniatkan apa yang dilakukannya itu untuk meraih ridha Allah, niscaya ia telah menjalankan salah satu perintah agama. Dan, pekerjaannya itu adalah bagian dari ibadah yang berbuah pahala. Begitupun dengan menghapuskan kemiskinan, yaitu dengan jalan bersedekah, berdemonstrasi menuntut keadilan, dan menjadi pejabat yang tidak korupsi, itu adalah bagian dari ibadah jika diniatkan untuk meraih keridhaan Allah. Bukankah kemiskinan lebih dekat pada kekufuran? Dan, bukankah kekufuran sangat dimurkai Allah? Semoga kita terhindar dari kekufuran, baik yang kecil maupun yang besar.

Sahabatku, dunia ini adalah ladang untuk kita beramal yang akan kita panen di akhirat nanti. Semoga saja sejarah kehidupan kita adalah sejarah orang-orang saleh. Meskipun kita pernah berbuat maksiat, tapi kita segera menggantinya dengan kebajikan dan taubat.(abufarras.blogspot.com)

Curhat Sang Kekasih Allah

Suatu ketika Syekh Tajuddin Ahmad bin Atho'illah As-Skandary dilanda keresahan beliau merasa ada perasaan sedih menyelinap dihatinya,sebagai manusia biasa hal itu merupakan suatu kewajaran apalagi kala itu sang ibnu Atho'illah ini masih baru mulai belajar tentang hakikat islam dan arti sebuah kehidupan,jadi tak heran bermacam-macam gangguan datang menggoyang ketenangan hati nya.

Ketika hal ini disampaikan pada gurunya Imam Abul Abbas Al-Mursy,beliau berkata:

احوال العبد اربع لا خامس لها : النعمة و البلية والطاعة والمعصية,
فان كنت بالنعمة فمقتض الحق منك الشكر
وان كنت بالبلية فمقتض الحق منك الصبر
وان كنت بالطاعة فمقتض الحق منك شهود منته عليك
وان كنت بالمعصية فمقتض الحق منك وجود الاستغفار

Ahwalul abdi arba' laa khomisa laha
An-ni'mah wal baliyyah wat tho'ah wal ma'shiah
Fa inkunta bin ni'mah famuqtadhol haq minka ay-syukru,
Wa inkunta bil baliyyah famuqtadhol haq minka as-shobru,
Wa inkunta bit thoo'ah famuqtadhol haq minka syuhud minnatihi alaika,
Wa inkunta bil ma'shiah famuqtadhol haq minka wujudul istighfar.

(Keadaan hamba(manusia)didunia ini hanya empat;keadaan atau saat-saat senang mendapat ni'mat,saat sedih dan susah karena mendapat musibah atau cobaan,saat dimana kita taat pada tuhan, dan saat dimana kita lalai ma'shiat pada tuhan.
Kalau kita dalam keadaan mendapat ni'mat maka yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur,jika kita sedang dalam sebuah penderitaan maka kita dituntut untuk sabar,jika kita diberi kekuatan oleh Allah melakukan ketaan dan kebajikan makan pandanglah bahwa itu merupakan karunia Allah pada kita bukan karena kehebatan diri kita,dan jika kita melakukan sebuah dosa maka kita dimita untuk mengucapkan Istighfar minta ampau atas dosa yg kita perbuat)

Manusia mana yang tak pernah berbuat dosa,manusia mana yang tak pernah bersedih,manusia mana yang hidupnya selalu tenang dan senang tanpa sedikitpun putus asa.

Nabi Muhammad saw bersada yang artinya:
setiap bani(anak keturunan)Adam itu pernah berbuat dosa,dan sebaik-baik orang yang pernah melakukan dosa adalah orang yang bertaubat.

Manusia dikarunia hawa nafsu,ini merupakan fitrah yang Allah jadikan untuk manusia agar dengan itu manusia mampu memakmurkan bumi,bangunan yang tinggi,masjid yang indah,dan sebangainya merupakan efek dari nafsu itu sendiri.seandainya yang menempati bumi adalah malaikat maka tidak akan ditemukan bangunan yg menjulang tinggi,mungkin bumi tidak ubahnya seperti kuburan.

Karena nafsu ini maka kebanyakan manusia selalu menyeleweng dari kebenaran.manusia selalu menuntut haknya dan lupa akan kewajiban sebagai hamba tuhan bahkan lupa bahwa ia merupakan makhluq social.

Kadang kita tidak menyadari bahwa hidup didunia ini tidak lepas dari empat keadaan diatas,terasa aneh sekali sebab empat hal itu merupakan realita yang tak terbantahkan tapi mengapa kita kadang masih lupa?jawabannya karena kita dilalaikan oleh syaitan!
Syetan juga membisikan rasa putus asa pada manusia,karena itu banyak diantara kita merasa dosanya terlalu besar kemudian merasa tipis harapan untuk bertaubat dan malah menambah lagi dosanya.

Pesimis,minder dan sebangsanya kalau kita perhatikan dengan seksama adlah hal yang kurang beralasan.Tuhan tidak suka dengan hamba yang putus asa,tuhan pasti menerima taubat setiap hambanya,tuhan tidak seperti manusia yang suka mempermainkan,janji tuhan pasti terlaksana.berapa kalipun seorang hamba berbuat dosa asal dia kembali pada Allah maka ia akan diterima,Allah tidak punya sifat merajuk.

Perkataan Imam Abul Abbas diatas menyampaikan pesan pada kita agar jangan berputus asa dalam kehidupan ini,tidak ada dosa yang tidak diampuni klu kita bertaubat.pesan lain adalah kesederhanaan hubungan kita dengan tuhan yang maha kuasa,Allah tidak menuntut apa-apa dari kita kecuali ibadah padanya.Allah tidak memerintahkan orang berdosa agar menyembelih onta tau kerbau yang mahal misalnya,Allah hanya butuh pengakuan dosa dan taubat istighfar yang diteruskan dgn perbuatan baik dari seorang hamba …cukup!kalau dilanda musibah Allah hanya minta sabar sambil usaha untuk lepas dari kesusahan itu,kalau kita rajin beribadah Allah hanya minta kita jangan sombong merasa baik,merasa kuat untuk beribadah dan lupa bahwa kekuatan untuk ibadaha adalah pertolongan dari Allah. Wallahu a'lam bisshowab(petanikcik.blogspot.com)





.





Al Qur'an Adalah Pengharum Abadi






Pernahkah anda mendengar atau membaca sebuah kisah tentang kuburan Abdullah bin ghalib yang berbau wangi???jika diantara anda sudah ada yang pernah mendengar atau membaca maka disini saya hanya ingin mengingatkan kembali tentang kisah tersebut. Seandainya diantara anda masih ada yang belum pernah sama sekali mendengar atau membaca kisah ini maka disini saya akan menuliskan kembali kisah tersebut sebagai suatu pengetahuan yang bisa dipetik hikmah dan pesannya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang yang beriman dan bertakwa.

Mungkin diantara anda ada yang pernah mengenal nama “Abdullah bin Ghalib” atau diantara anda masih merasa asing mendengar nama tersebut. Tahukah anda bahwa Abdullah bin Ghalib adalah salah satu dari hamba Allah SWT yang diberi anugerah, yaitu banyak membaca Al-Qur’an dan berpuasa. Dengan banyak membaca Al-Qur’an dan berpuasa, ternyata ketika beliau meninggal dunia pada tahun 152 H dan dikuburkan, menyeruaklah dari kuburannya harum minyak wangi kesturi.

Suatu hari salah satu sahabat beliau bermimpi bertemu dengan beliau dan bertanya, “Wahai Abdullah, apa yang engkau lakukan?”

“Aku melakukan yang terbaik, “ jawab beliau.

“Kemana engkau pergi?” Tanya sahabat beliau.

“Ke surga,” jawab beliau.

“Dengan apa engkau bisa masuk surga?” Tanya sahabat beliau lagi.

“Dengan keyakinan yang amat baik, terus-menerus bertahajud, banyak berpuasa sunnah, dan menjauhi apa yang diharamkan,” jawab beliau.

“Harum wangi apa yang terdapat dalam kuburanmu?” Tanya sahabat beliau.

“Itu adalah wanginya bacaan Al-Qur’an dan banyaknya puasa sunnah,” jawab beliau.

“Wasiatkanlah kami, wahai Abdullah,”

“Berbuatlah yang terbaik buat dirimu. Janganlah berlalu siang dan malam dengan sia-sia,” pesan beliau.

Dari kisah tersebut, dapat kita ambil sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk kehidupan kita dunia-akhirat terutama untuk kehidupan akhirat kelak.

  1. Kunci utama untuk membuka pintu surga sehingga kita bisa masuk kedalamnya adalah dengan kita memiliki keyakinan yang amat baik, sholat tahajud secara terus-menerus, melakukan banyak berpuasa sunnah dan selalu menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Semua itu merupakan kunci untuk masuk kedalam surga-Nya.

  2. Jika kita ingin tempat tinggal kita yang abadi (kuburan) selalu berbau wangi maka banyak-banyaklah membaca Al-Qur’an kapanpun dan dimanapun. Selain itu, banyaklah berpuasa sunnah.

Untuk itu, selagi kita masih diberi kesempatan untuk berbuat yang terbaik dalam kehidupan kita. Maka berbuatlah yang terbaik untuk dirimu sendiri, janganlah berlalu siang dan malam dengan sia-sia agar selamat di dunia dan akhirat sehingga kita dapat memasuki surga yang telah Allah SWT janjikan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.

-----------
Pengirim : Lina El-Barich(dudung.net)








Bila Kita Bermasalah,Berbahagialah......

Membaca judul di atas mungkin Anda bertanya-tanya, apakah saya tak salah tulis. Anda mungkin berkata, 'Bukankah akan lebih berbahagia kalau kita sama sekali tak punya masalah?'' Kalau demikian, Anda salah besar! Dimana ada kehidupan, disitu pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Anda bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?

Ada kata-kata bijak dari Norman V Peale yang patut Anda renungkan. Dalam bukunya You Can If You Think You Can, ia mengatakan, 'Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Anda sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.''

Pernyataan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur Anda yang & sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma dan cara berpikir. Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kita lah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching, ''Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.''
Berikut ini contoh sederhana. Sebagai seorang fasilitator yang memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah menganggap ini masalah besar. Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai terganggu. Lama-kelamaan saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal
biasa. Justru ini adalah kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima. Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan sebuah masalah, tapi sebuah peluang yang sangat berharga.


Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka tak mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah.

Ibarat mendaki gunung, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung.
Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu.
Tipe ketiga adalah Climbers yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian, dan tak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang pernah dikatakan Dag Hammarskjold, "Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu."


Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka ''berjasa'' karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Anda baru dapat disebut manajer yang baik kalau Anda mampu memimpin seorang bawahan yang sulit, yang membuat para manajer lain angkat tangan. Anda baru menjadi orang tua yang baik kalau Anda dapat menangani anak yang bermasalah, atau pun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran Anda. Anda baru dapat disebut profesional kalau Anda mampu menangani pelanggan yang cerewet yang sering mengeluh dan banyak maunya. Untuk mencapai kesuksesan Anda perlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghadapi masalah.


Kecerdasan tersebut dimulai dari merubah pola pikir dan paradigma Anda sendiri. Mulailah melihat semua masalah yang Anda hadapi sebagai peluang, kesempatan, dan rahmat. Anda akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup yang tenang dan damai.

Berbahagialah jika Anda memiliki masalah. Itu artinya Anda sedang hidup dan berkembang. Justru bila Anda tak punya masalah sama sekali, saya sarankan Anda segera berdoa, ''Ya Tuhan. Apakah Kau tak percaya lagi padaku, sehingga Kau tak mempercayakan satu pun kesulitan hidup untuk saya atasi?'' Dengan berdoa demikian Anda tak perlu khawatir. Tuhan amat mengetahui kemampuan kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya.(wrm-indonesia.org)